Newest Post

Ashabu Rayati Sud (Pasukan Panji Hitam)

| Senin, 02 Juni 2014
Baca selengkapnya »

Generasi Thaifah Manshurah yang Dijanjikan Kemunculannya di Akhir Zaman

Thaifah Manshurah, Senantiasa ada hingga kiamat

Dalam berbagai hadits yang shahih telah dijelaskan bahwa akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang berpegang teguh di atas kebenaran. Mereka melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan konskuen, memperjuangkan tegaknya syariat Islam, dan meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam, baik dari kalangan kaum kafir maupun kaum munafik dan murtadin.

Kelompok Islam ini disebut ath-thaifah al-manshurah atau kelompok yang mendapat kemenangan. Kelompok ini akan senantiasa ada sampai saat bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh kaum beriman menjelang hari kiamat kelak. Kelompok ini diawali dari Rasulullah saw beserta segenap sahabat, berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai imam Mahdi dan Nabi Isa dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasar syariat Islam.

Hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah diriwayatkan banyak jalur dari sembilan belas (19) shahabat. Menurut penelitian sejumlah ulama hadits, hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah telah mencapai derajat mutawatir.

Kelompok umat Islam ini adalah kelompok elit umat Islam. Mereka adalah sekelompok kecil kaum ‘fundamentalis Islam’, di tengah kelompok umat Islam yang telah mulai lalai dari kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah ‘muslim-muslim militan’ yang sangat dikhawatirkan oleh AS dan Barat akan mengancam kepentingan mereka. Rasulullah saw menamakan kelompok ini sebagai ath-thaifah al-manshurah, kelompok yang mendapatkan kemenangan. Penamaan ini merupakan sebuah janji kemenangan bagi kelompok ini, baik dalam waktu yang cepat maupun lambat, baik kemenangan materi maupun spiritual.

Di antara hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah tersebut adalah sebagai berikut:

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu .”[1]

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas urusan Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu.”[2]

Ashabu Rayati Suud, Generasi Akhir Thaifah Mansurah yang dijanjikan

Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.”[3]

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa di akhir zaman, kelompok Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kelompok ini. Parameter kebenaran saat itulah adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits fitnah duhaima’). Sedangkan kelompok Thaifah Manshurah yang memberikan dukungan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud (Pasukan Panji Hitam dari Khurasan).

Benar, membicarakan kemunculan Al-Mahdi tidak bisa terlepas dari membicarakan satu kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai pasukan panji hitam (Ashhabu Rayati Suud / The Black Banner). Kelompok ini memiliki beberapa ciri khusus yang akan lebih memudahkan bagi seseorang untuk mengenalinya. Meskipun demikian, tidak mudah bagi seseorang untuk menjustifikasi kelompok tertentu bahwa mereka adalah Ashhabu Rayati Suud. Sebab ciri-ciri tersebut juga banyak dimiliki oleh banyak manusia dan kelompok, sedang riwayat yang menunjukkan asal keberadaan mereka (Khurasan) merupakan sebuah wilayah luas yang dihuni oleh banyak manusia.

Siapakah sebenarnya Ashahbu Rayati Suud yang kelak menjadi pendukung Al Mahdi ? Benarkah riwayat yang membicarakan kemunculan kelompok ini ?

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan keberadaan kelompok ini, di antaranya adalah sebagai berikut

□      “Akan keluar sebuah kaum dari arah Timur, mereka akan memudahkan kekuasaan bagi Al Mahdi.”

□      “Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatupun bisa menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis).”

□      “Akan keluar manusia dari Timur yang akan memudahkan jalan kekuasaan bagi Al ‘ Mahdi.”

Namun riwayat-riwayat tersebut memiliki cacat dari sisi sanad dan periwayatannya. Sedangkan riwayat tentang Ashhabu Rayati Suud yang sampai pada derajat hasan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban :

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.” Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.[4]

Riwayat tersebut tidak banyak menjelaskan ciri-ciri fisik tertentu secara detil sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lainnya. Tentang maksud perbendaharaan dalam riwayat tersebut Ibnu Katsir berkata, “Yang dimaksud dengan perbendaharaan di dalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka’bah. Akan ada tiga orang putera khalifah yang berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur.

Zaman Kemunculan Ashabu Rayati Suud

Berdasar riwayat Tsauban di atas, kemunculan Ashhabu Rayati Suud adalah di saat kemunculan Al-Mahdi. Riwayat tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan Ashhabu rayati Suud dan embrionya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kemunculan Al-Mahdi. Sebab, kemunculan sebuah kelompok yang kelak mewakili satu-satunya kelompok paling haq di antara kelompok umat Islam yang ada jelas tidak mungkin muncul dengan sekejab, sim salabim. Keberadaan mereka sudah ada dan embrio mereka terus tumbuh di tengah kerasnya kecamuk perang dan debu-debu mesiu. Ciri khas mereka dalam riwayat di atas – memiliki kemampuan membunuh lawan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum sebelumnya – menggambarkan betapa dahsyatnya daya tempur dan strategi militer yang mereka punyai. Riwayat ini juga mengisyaratkan bahwa aktivitas mereka sebelum kemunculan Al-Mahdi adalah perang dan pembunuhan, hal yang menjadi ciri khas thaifah manshurah di akhir zaman.

Riwayat Tsauban di atas juga mengisyaratkan bahwa kemunculan Ashabu Rayati Suud dari Khurasan ini terjadi di saat kematian seorang raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan Ka’bah.

Dalam hal ini, banyak analisa menyebutkan bahwa boleh jadi kondisi itu akan segera menjadi realita demi melihat apa yang saat ini terjadi di Saudi. Adalah Tony Khater[5], seorang analis politik Amerika dengan spesialisasi kajian Timur Tengah khususnya Arab Saudi, telah secara konsisten menyebutkan tentang terpecahnya pemerintahan Arab Saudi menjadi empat kelompok sebelum wafatnya Raja Fahd, seakan-akan kelompok-kelompok itu memunyai pemerintahannya sendiri-sendiri, yaitu pemerintahan Putra Mahkota Pangeran Abdullah, pemerintahan Pangeran Nayef, pemerintahan Pangeran Sultan, dan pemerintahan Pangeran Salman. Dengan wafatnya Raja Fahd, lalu Putra Mahkota Abdullah yang telah berusia 80 tahun naik menjadi raja, maka di bawahnya terdapat tiga pangeran dengan pemerintahannya sendiri-sendiri yang bersiap-siap menggantikannya ketika ia wafat nanti, yaitu Pangeran Nayef, Pangeran Sultan, dan Pangeran Salman.

Jika ini kelak terjadi, akankah ia menjadi tanda kemunculan Al-Mahdi dan menjadi tanda keluarnya Ashabu Rayati Suud? Lalu siapakah kelompok yang layak untuk disebut sebagai Ashabu rayati Suud, kelompok Thaifah Manshurah akhir zaman yang dijanjikan?

Ashabu Rayati Suud akan muncul dari timur Khurasan, benarkah mereka Thaliban dan Al-Qaeda ?

Kemunculan salah satu tandhim askari kaum militan fundamental di wilayah Khurasan (Afghanistan, Iraq dll) yang dikenal dengan Thaliban dan Al-Qaeda memunculkan pertanyaan, benarkah mereka adalah calon Ashhabu Rayati Suud yang dijanjikan? Pasalnya, kelompok ini adalah satu-satunya kaum militan muslim yang paling ditakuti oleh barat karena kehebatan tempur mereka, juga karena cita-cita mereka yang radikal; mendirikan negara Islam dari ujung Asia Tenggara hingga barat Maroko. Mereka adalah muslim fundamental yang paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah saw. Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman internasional, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realitas hidup mereka.

Beberapa analis pemerhati hadits-hadits fitnah menduga; bahwa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelar kehormatan itu sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi.

Dalam hal ini, terlepas dari tepat atau melesetnya dugaan-dugaan tersebut, ada hal lain yang lebih penting untuk dipahami oleh seorang muslim berkaitan dengan dua kelompok fundamental ini. Setiap muslim hendaknya berhati-hati untuk tidak menjatuhkan vonis tertentu pada kelompok-kelompok yang secara lahir memiliki stigma dan citra negatif dari musuh-musuh Islam –bahkan dari kalangan umat Islam sendiri- bahwa hal itu bukan berarti keadaan mereka adalah sebagaimana tuduhan itu. Merupakan sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam dari bangsa barat memiliki dendam dan kebencian kepada setiap muslim yang memegang teguh agama mereka. Dalam hal ini, kelompok Thaliban dan Al-Qaeda yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat tentang “kekejian dan kejahatan” Thaliban terhadap manusia.

Tanpa bermaksud memastikan apakah Thaliban merupakan termasuk kelompok Ashhabu Rayatis Suud, yang pasti bahwa memberikan tuduhan jahat dan keji yang belum tentu demikian kenyataannya merupakan kejahatan tersendiri. Sementara mendoakan mereka, mengharapkan mereka untuk membela umat Islam, mengusir musuh-musuh Islam dan menegakkan syari’at di muka bumi merupakan sikap yang baik.

Namun demikian – terlepas bahwa Thaliban dan Al-Qaeda memiliki ciri-ciri yang banyak keserupaannya dengan kelompok Ashabu Rayati Suud – yang jelas memastikan secara haqqul yakin bahwa mereka adalah Ashabu Rayati Suud termasuk sikap tergesa-gesa. Namun, mudah-mudahan tidak salah jika kita berharap, semoga mereka itulah kelompok yang dimaksudkan. Amiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

[1]. HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3544 dan Tirmidzi: Kitabul fitan no. 2155

[2]. HR. Muslim: Kitabul imarah no. 3550.

[3]. HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.

[4] Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467: Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain.” (An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini).

[5] Pada situs Saudipolitics.com, 1 Januari 2004, Tony Khater, THE UNITED STATES AS UNWANTED BROKER IN ROYAL SECESSION; IT WANTS BANDAR BIN SULTAN AS CROWN PRINCE”

Ashabu Rayati Sud (Pasukan Panji Hitam)

Posted by : Arik noviwibawa
Date :Senin, 02 Juni 2014
With 0comments

Mimpi dari Ujung Kalimantan

| Minggu, 01 Juni 2014
Baca selengkapnya »

Judul Buku               : Empat Musim Cinta
Judul Cerpen           : Mimpi dari Ujung Kalimantan
Penulis                     : Rizki Pandu Permana
Penerbit                   : GagasMedia
Tahun Terbit             : 2011
Tebal Buku               : 174 halaman


Latar Belakang

Alasan saya memilih cerpen yang berjudul ‘Mimpi dari Ujung Kalimantan’ untuk diresensi, karena isi dari cerpen ini menarik. Menceritakan tentang seorang laki-laki kewarganegaraan Belanda yang bernama Ben Muller datang ke Indonesia untuk memecahkan mimpi yang selalu menghantui pikirannya, dan mengungkap rahasia kakek buyutnya yang bernama Bram Muller seorang ahli geologi yang hilang di Indonesia pada tahun 1935.


Sinopsis

Ben Muller adalah seorang peneliti kewarganegaraan Belanda yang sengaja datang ke indonesia untuk memecahkan dan mengungkap kebenaran di balik mimpi yang selalu menghantui pikirannya. Dalam mimpinya ia melihat seorang laki-laki yang sekilas wajah laki-laki itu mirip dengannya, ditemani oleh seorang wanita yang mengenakan pakaian hitam yang berkilau yang terlihat cantik dan anggun. Laki-laki itu seperti mengatakan sesuatu pada Ben, namun Ben sama sekali tak bisa menangkap dan memahami perkataan laki-laki di mimpinya itu. Tanpa sadar, Ben mulai merasa gila karena mimpinya itu.
Ben menceritakan mimpi itu kepada Frans Muller ayahnya. Pembicaraan dengan ayahnya membuat Ben berkesimpulan bahwa laki-laki di mimpinya itu adalah Bram Muller, kakek buyutnya yang hilang di Indonesia berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika ikut rombongan Pemerintah Belanda pada penjelajahan ke indonesia tepatnya di Kalimantan pada tahun 1935. Dorongan dari ayahnya lah yang menjadikan Ben semakin bersemangat untuk mencari jawaban dari mimpinya itu. Ia memutuskan untuk pergi ke Kalimantan.
Di dalam pesawat Kal-Star tujuan Tanjung Redep, tiba-tiba Ben terkesiap ketika melihat seorang pramugari yang wajahnya mirip sekali dengan wanita yang ada di mimpinya. Ia berpikir bahwa mungkin saja ini adalah petunjuk lain yang dapat membantunya memecahkan misteri mimpinya selama ini. Dia menceritakan mimpinya dan alasan mengapa ia datang ke Indonesia pada pramugari yang bernama Emi, kemudian Emi menyuruh Ben untuk pergi ke daerah Teluk Bayur dan mencari Jiang Bithau yang tak lain adalah kakek Emi. Jiang Bithau adalah orang yang bisa mengungkap kebenaran dari mimpinya.
Sesampainya di rumah Jiang bithau, Ben terkejut mendengar penjelasan dan kenyataan yang pahit. Ternyata kakek buyutnya bukan meninggal karena dibunuh oleh tentara Jepang yang menyerbu sebuah perusahaan batubara Stenkollen Matschappy Prapatan tempat kakek buyutnya bekerja, melainkan ia meninggal karena dibunuh oleh ayahnya Jiang Bithau yang telah mengayau (memenggal kepala) kakek buyutnya dengan alasan ia telah berselingkuh dengan istri dari ayah Jiang Bithau.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan cerpen ini adalah kemampuan pengarang yang berupaya menjaga rasa penasaran pembaca agar membaca cerpen ini sampai akhir. Selain itu, kisah yang diceritakan dapat menguras emosi dan pikiran pembaca. Sedangkan kekurangannya terletak pada akhir kisah yang diceritakan tidak jelas.
Di tengah melimpahnya cerpen-cerpen dewasa lainnya, cerpen ini mempunyai daya tarik tersendiri, dan layak dibaca oleh remaja dan dewasa.





Mimpi dari Ujung Kalimantan

Posted by : Arik noviwibawa
Date :Minggu, 01 Juni 2014
With 0comments

RESENSI NOVEL Le Petit Prince(Pangeran Kecil)

|
Baca selengkapnya »

Semua orang dewasa mulanya adalah anak-anak (meskipun hanya sedikitdari mereka yang ingat) Buku ini merupakan salah satu buku anak-anak favorit sepanjang masa. Sudah diterjemahkan puluhan bahasa. Pokoknya bacaan yang wajib dibaca. Meski ini tentang anak-anak, buku ini sesungguhnya diperuntukkan bagi orang dewasa. Ada banyak pemikiran yang mengajak kita merenungi arti hidup dari perjalanan kisah Pangeran Kecil yang berpetualang dari planet satu ke planet lain.
Planet pertama dihuni oleh seorang raja. Planet kedua dihuni oleh seorang yang sangat angkuh. Planet berikutnya dihuni oleh peminum. Kunjungan ini sangat singkat, tetapi membuat si Pangeran Kecil sangat murung. Planet keempat milik seorang pengusaha. Orang ini sangatlah sibuk dia bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika Pangeran Kecil datang. Planet kelima sangatlah ganjil. Planet ini paling kecil dibanding yang lain. Hanya ada cukup ruang untuk menaruh lampu jalanan dan seorang penyulut lampu. Pangeran Kecil tidak bisa membayangkan apa gunanya lampu jalanan dan penyulut lampu, di suatu tempat di langit, di planet yang tak ada rumah ataupun penduduknya. Planet keenam sepuluh kali lebih besar daripada planet sebelumnya. Planet ini dihuni seorang pria tua yang menulis buku-buku besar. Maka planet ketujuh yang dikunjunginya adalah Bumi.
Salah satu poin lebih dari buku ini adalah dilengkapi ilustrasi yang sederhana tapi menawan. Bukunya memang tipis, tapi ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita serap lewat petualangan Pangeran Kecil ini.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
    1.    Kekuasaan, yang utama, bersandar pada sesuatu yang masuk akal. (hlm. 47)   
    2.    Jika kau berhasil menghakimi dirimu sendiri dengan benar, berarti kau benar-benar orang bijak. (hlm. 48)
    3.    Jika kau mencoba kelihatan pandai, kadang-kadang kau menjauh dari kebenaran. (hlm. 69)
    4.    Kau juga bisa merasa sepi walaupun kau berada di tengah manusia. (hlm. 71)
    5.    Manusia tak lagi punya waktu untuk memahami segala hal. (hlm. 81)
    6.    Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tak terlihat oleh manusia. (hlm. 85)
    7.    Orang tak pernah merasa bahagia di tempatnya. (hlm. 86)
    8.    Hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari. (hlm. 86)
    9.    Tetapi mata memang buta. Orang harus melihat dengan hati. (hlm. 93)
   10. Kita berisiko menangis sedikit jika kita membiarkan diri dijinakkan. (hlm. 95)
   11. Apa yang penting, tidaklah bisa dilihat. (hlm. 99)
   12. Sekali-kali orang bisa lengah, dan sekalisaja sudah cukup! (hlm. 106)
   13. Tak satupun di dunia ini akan sama lagi jika di suatu tempat –entah dimana- (hlm. 106)
   14. Apakah bintang-bintang bersinar begitu supaya suatu hari nanti semua orang bisa menemukan jalan pulang ke bintang miliknya?” (hlm. 71)

The Little Prince atau Pangeran Kecil adalah buku klasika nak-anak yang memiliki pesona tak lekang oleh waktu dan daya tarik melampaui batas usia dan kebangsaan sehingga menjadikannya buku berbahasa Prancis yang paling banyak diterjemahkan. Ditulis dalam pengasingan pada masa perang oleh pria dewasa yang senang in action, yang dipaksanonaktif, dan dibayangi situasi krisis negara asalnya, membuat mereka yang akrab dengan kehidupan dan kematian Saint-Exupéry berpendapat The Little Prince adalah sepotong otobiografi –sebuah upaya untuk meredam kesulitan pernikahannya, atau untuk menangkis masa kini agar bisa terus mengenang dunia kanak-kanak, atau bahkan merupakan ucapan selamat tinggal atas kepergiannya yang misterius.

Keterangan Buku
Judul                          : The Little Prince
Penulis                      : Antoine de Saint-Exupéry
Alih bahasa              : Listiana Srisanti
Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                          : 2003
Tebal                          : 112 hlm.
ISBN                           : 979-22-0469-5

RESENSI NOVEL Le Petit Prince(Pangeran Kecil)

Posted by : Arik noviwibawa
Date :
With 0comments
Next → ← Prev
▲Top▲