Pada suatu masa dimana semua melihatku
sebagai perusak dan anak kecil yang tak tau diri. Hai aku Elric umurku 9 tahun,
kelas 3 SD dan aku ingin cerita tentang karakther ini. Seperti biasa setiap
bangun tidur aku langsung pergi mandi karena hari ini aku mau sekolah, sehabis
mandi aku disuapin ibu karena aku agak susah makan lalu aku diberi saos agar
cepat makannya hehehehe.... , setelah makananku habis aku pergi sekolah dengan
menggunakan sepeda meskipun sudah banyak yang karatan tapi sepeda ini masih hebat
bisa melaju sangat kencang, setiba sampai disekolah aku hampir saja terlambat
karena 5 menit lagi bel telah berbunyi.
Setelah melewati beberapa pelajaran tibalah pelajaran seni rupa dan disaat itu aku lupa membawa buku gambar lalu disaat semua menggambar aku diam saja kemudian ibu guru memanggilku. Katanya “elric kesini , kamu nggak bawa buku gambar ya?? “Dengan nada tegas, lalu aku menjawab “iya bu hehehe..” Sambil tersenyum, disaat itu aku berfikir mungkin si ibu guru mau memberikan selembar kertas gambar tapi si ibu guru menempatkan tangannya dipaha ku lalu mencubit sekencang kencangnya seketika aku menangis sambil menahan teriakan yang akan menggangu kosentrasi teman temanku, lalu ibu guru berkata “Kan, ibu sudah bilang kemarin, besok jangan lupa bawa buku gambar” dengan nada tegas yang sedikit membentak lalu aku hanya bisa menjawab “ ya bu aku tak akan mengulanginya lagi” dengan nada bersedu-sedu, lalu aku disuruhnya duduk , meskipun sudah duduk sakitnya malah tersasa semakin sakit, pas kubuka sedikit celana pendekku ternyata ada buletan berwarna biru terletak pada pahaku , dan teman sebangku ku bertanya “kamu nggak apa apa kan ?” aku hanya bisa manggut-manggut sambil berlinangan air mata, lalu temanku berkata pada bu guru dan dia bilang “bu elric menangis” lalu bu guru menyautnya dengan berkata “Biarkan saja” dan serentak semua murid pun terdiam dan aku masih tak bisa manahan air mata ini.
Setelah melewati beberapa pelajaran tibalah pelajaran seni rupa dan disaat itu aku lupa membawa buku gambar lalu disaat semua menggambar aku diam saja kemudian ibu guru memanggilku. Katanya “elric kesini , kamu nggak bawa buku gambar ya?? “Dengan nada tegas, lalu aku menjawab “iya bu hehehe..” Sambil tersenyum, disaat itu aku berfikir mungkin si ibu guru mau memberikan selembar kertas gambar tapi si ibu guru menempatkan tangannya dipaha ku lalu mencubit sekencang kencangnya seketika aku menangis sambil menahan teriakan yang akan menggangu kosentrasi teman temanku, lalu ibu guru berkata “Kan, ibu sudah bilang kemarin, besok jangan lupa bawa buku gambar” dengan nada tegas yang sedikit membentak lalu aku hanya bisa menjawab “ ya bu aku tak akan mengulanginya lagi” dengan nada bersedu-sedu, lalu aku disuruhnya duduk , meskipun sudah duduk sakitnya malah tersasa semakin sakit, pas kubuka sedikit celana pendekku ternyata ada buletan berwarna biru terletak pada pahaku , dan teman sebangku ku bertanya “kamu nggak apa apa kan ?” aku hanya bisa manggut-manggut sambil berlinangan air mata, lalu temanku berkata pada bu guru dan dia bilang “bu elric menangis” lalu bu guru menyautnya dengan berkata “Biarkan saja” dan serentak semua murid pun terdiam dan aku masih tak bisa manahan air mata ini.
Dan pelajaran pun berakhir sebelum
aku pulang, aku membeli 2 buah piscok(pisang coklat) yang masih hangat dengan
berlumuran saos coklat susu yang begitu manis emmm yummy , seketika rasa
sakitnya menghilang karena kegurihan pisangnya dan begitu manis rasanya setelah
menelannya. Sesampainya di rumah aku berganti baju dahulu lalu aku pergi
keruang tamu yang disana ada ibuku yang sedang membaca majalah dan aku langsung
memamerkan bahwa di pahaku ada buletan biru yang seperti awan. Aku bilang ”mah
paha ku biru donk” sambil tersenyum dan juga sambil melompat-lompat diatas sofa
lalu ibu berkata dengan nada sedikit marah “Itu kenapa? Kamu jatuh?” spontan
aku langsung diam sejenak “Enggak mah” ku menjawab dengan kepala menunduk
“Terus kenapa?” ibuku bertanya kembali lalu aku menjawab “Emmm dicubit bu guru”
dengan nada yang pelan “Emang kamu ngapain? Kamu bandel ya” dengan nada
membentak, aku hanya menjawab “Nggak bawa buku gambar” dengan muka malu sambil
tersenyum.
Keesokan harinya ibu dan ayahku pergi kesekolah dan aku diajak keruang guru dan ternyata guru yang bersangkutan tak masuk pada hari itu , tapi disaat itu aku nggap peduli karena disaat itu ada pelajaran olah-raga(pelajaran bersenang-senang bersama teman, ehehehhe) dan aku berpamitan bergegas-gegas menuju lapangan. Dan setelah kejadian itu aktivitas berjalan seperti biasa dan bu guru juga sudah meminta maaf padaku.
Bersambung. . .
Keesokan harinya ibu dan ayahku pergi kesekolah dan aku diajak keruang guru dan ternyata guru yang bersangkutan tak masuk pada hari itu , tapi disaat itu aku nggap peduli karena disaat itu ada pelajaran olah-raga(pelajaran bersenang-senang bersama teman, ehehehhe) dan aku berpamitan bergegas-gegas menuju lapangan. Dan setelah kejadian itu aktivitas berjalan seperti biasa dan bu guru juga sudah meminta maaf padaku.
Bersambung. . .
#Hanya Fiksi
0 comments:
Posting Komentar