Newest Post

RESENSI NOVEL Le Petit Prince(Pangeran Kecil)

| Minggu, 01 Juni 2014
Baca selengkapnya »

Semua orang dewasa mulanya adalah anak-anak (meskipun hanya sedikitdari mereka yang ingat) Buku ini merupakan salah satu buku anak-anak favorit sepanjang masa. Sudah diterjemahkan puluhan bahasa. Pokoknya bacaan yang wajib dibaca. Meski ini tentang anak-anak, buku ini sesungguhnya diperuntukkan bagi orang dewasa. Ada banyak pemikiran yang mengajak kita merenungi arti hidup dari perjalanan kisah Pangeran Kecil yang berpetualang dari planet satu ke planet lain.
Planet pertama dihuni oleh seorang raja. Planet kedua dihuni oleh seorang yang sangat angkuh. Planet berikutnya dihuni oleh peminum. Kunjungan ini sangat singkat, tetapi membuat si Pangeran Kecil sangat murung. Planet keempat milik seorang pengusaha. Orang ini sangatlah sibuk dia bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika Pangeran Kecil datang. Planet kelima sangatlah ganjil. Planet ini paling kecil dibanding yang lain. Hanya ada cukup ruang untuk menaruh lampu jalanan dan seorang penyulut lampu. Pangeran Kecil tidak bisa membayangkan apa gunanya lampu jalanan dan penyulut lampu, di suatu tempat di langit, di planet yang tak ada rumah ataupun penduduknya. Planet keenam sepuluh kali lebih besar daripada planet sebelumnya. Planet ini dihuni seorang pria tua yang menulis buku-buku besar. Maka planet ketujuh yang dikunjunginya adalah Bumi.
Salah satu poin lebih dari buku ini adalah dilengkapi ilustrasi yang sederhana tapi menawan. Bukunya memang tipis, tapi ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita serap lewat petualangan Pangeran Kecil ini.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:
    1.    Kekuasaan, yang utama, bersandar pada sesuatu yang masuk akal. (hlm. 47)   
    2.    Jika kau berhasil menghakimi dirimu sendiri dengan benar, berarti kau benar-benar orang bijak. (hlm. 48)
    3.    Jika kau mencoba kelihatan pandai, kadang-kadang kau menjauh dari kebenaran. (hlm. 69)
    4.    Kau juga bisa merasa sepi walaupun kau berada di tengah manusia. (hlm. 71)
    5.    Manusia tak lagi punya waktu untuk memahami segala hal. (hlm. 81)
    6.    Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tak terlihat oleh manusia. (hlm. 85)
    7.    Orang tak pernah merasa bahagia di tempatnya. (hlm. 86)
    8.    Hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari. (hlm. 86)
    9.    Tetapi mata memang buta. Orang harus melihat dengan hati. (hlm. 93)
   10. Kita berisiko menangis sedikit jika kita membiarkan diri dijinakkan. (hlm. 95)
   11. Apa yang penting, tidaklah bisa dilihat. (hlm. 99)
   12. Sekali-kali orang bisa lengah, dan sekalisaja sudah cukup! (hlm. 106)
   13. Tak satupun di dunia ini akan sama lagi jika di suatu tempat –entah dimana- (hlm. 106)
   14. Apakah bintang-bintang bersinar begitu supaya suatu hari nanti semua orang bisa menemukan jalan pulang ke bintang miliknya?” (hlm. 71)

The Little Prince atau Pangeran Kecil adalah buku klasika nak-anak yang memiliki pesona tak lekang oleh waktu dan daya tarik melampaui batas usia dan kebangsaan sehingga menjadikannya buku berbahasa Prancis yang paling banyak diterjemahkan. Ditulis dalam pengasingan pada masa perang oleh pria dewasa yang senang in action, yang dipaksanonaktif, dan dibayangi situasi krisis negara asalnya, membuat mereka yang akrab dengan kehidupan dan kematian Saint-Exupéry berpendapat The Little Prince adalah sepotong otobiografi –sebuah upaya untuk meredam kesulitan pernikahannya, atau untuk menangkis masa kini agar bisa terus mengenang dunia kanak-kanak, atau bahkan merupakan ucapan selamat tinggal atas kepergiannya yang misterius.

Keterangan Buku
Judul                          : The Little Prince
Penulis                      : Antoine de Saint-Exupéry
Alih bahasa              : Listiana Srisanti
Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                          : 2003
Tebal                          : 112 hlm.
ISBN                           : 979-22-0469-5

RESENSI NOVEL Le Petit Prince(Pangeran Kecil)

Posted by : Arik noviwibawa
Date :Minggu, 01 Juni 2014
With 0comments

Dalang Kerusuhan Mei 1998 Mendukung Jokowi

|
Baca selengkapnya »

"Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu...
Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, 'Sudah tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti'...Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, 'Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian gereja.' "

- Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316

Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang kemarin menyeberang ke kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang akhir Orde Baru karena terbukti terbukanya niat Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang akan saya bongkar di bawah ini.

A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi Paling Keji Sepanjang Sejarah Indonesia

Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa dua hari sebelum kejadian Megawati sudah mengetahui dari Benny akan terjadi serangan terhadap kantor PDI dan Catatan Rachmawati Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002 maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi) dan Megawati untuk menaikan seseorang dari keluarga Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto, kebetulan saat itu hanya Megawati yang mau jadi boneka Benny Moerdani. Sedikit kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri:

"Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?
Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak."

Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah "eureka moment" yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet untuk regenerasi kepemimpinan Indonesia dan diganti Megawati sehingga menimbulkan kecurigaan dari pihak Mabes ABRI; Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS) yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI dan selama ini dianggap perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani berada di sisi Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru. Semua fakta ini juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang mana menyebutkan rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi yang membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan dokumen buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana diklaim oleh Budiman Sejatmiko selama ini.

Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada anak buahnya seperti "siapa suruh kalian mau ikut saya?" dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada masing-masing SBY yang memimpin rapat penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Megawati melakukan bunuh diri bila menyelidiki kejahatannya sendiri!

Bila dihubungkan dengan grup yang berkumpul di sisi Jokowi maka sudah jelas bahwa CSIS; PDIP; Budiman Sejatmiko, Agum Gumelar; Hendropriyono; Fahmi Idris; Megawati; Sutiyoso ada di pihak Poros JK mendukung Jokowi-JK demi menghalangi upaya Prabowo naik ke kursi presiden.

B. Kerusuhan Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden.

Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di masa kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira bawahan dia melihat sajadah di kursi dan bertanya "Apa ini?", jawab sang perwira, "Sajadah untuk shalat, Komandan." Benny membentak "TNI tidak mengenal ini." Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat menjelang ibadah Jumat sehingga menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.

Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang sama bahwa para perwira yang menonjol keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak akan mendapat kesempatan sekolah karena sang perwira dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir militernya suram.

Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken yang diangkat dan menduduki pos penting pada masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Johny Lumintang; Albert Inkiriwang; Herman Mantiri; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei dan lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam atau Islam abangan (yang tidak dianggap "fanatik" atau berada dalam golongan "islam santri" menurut versi Benny). Inilah yang dilawan Prabowo antara lain dengan membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh kelompok Benny Moerdani namun tidak berhasil. Tidak heran kelompok status quo dari kalangan perwira Benny Moerdani membenci Prabowo karena Prabowo yang menghancurkan cita-cita mendeislamisasi Indonesia itu.

Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam", lalu menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di Kasebul, Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Hoemardani (baca kesaksian George Junus Aditjondro, murid Pater Beek).

Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu Golkar-PDIP-Hanura-NasDem ada hubungan dengan kelompok anti Islam santri yang dihancurkan Prabowo? Silakan perhatikan satu per satu nama-nama yang mendukung Jokowi-JK, ada Ryamizard Ryacudu (menantu mantan wapres Try Sutrisno-agen Benny untuk persiapan bila Presiden Soeharto mangkat); ada Agum Gumelar-Hendropriyono (dua malaikat pelindung/bodyguard Megawati yang disuruh Benny Moerdani); ada Andi Widjajanto (anak Theo Syafeii) ada Fahmi Idris (rumahnya adalah lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 pertama kali dilontarkan Benny Moerdani); ada Luhut Panjaitan; ada Sutiyoso; ada Wiranto dan masih banyak lagi yang lain.

Lho, Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut:

"Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu."

(Salim Said, halaman 320)

Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki hubungan dekat dengan Benny Moerdani namun kita memiliki cara membuktikan kebohongannya. Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai "ABRI Hijau", dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir mengenai hal ini Wiranto mengatakan cerita "daftar nama" adalah bohong. Namun bila kita melihat catatan penting masa setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat bahwa memang terjadi banyak perwira "hijau" di masa Wiranto yang waktu itu dimutasi dan hal ini sempat menuai protes.

Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang Benny Moerdani yang masih tersisa di sekitar Soeharto menjawab sekali untuk selamanya mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot; dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga Prabowo diusir dan dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto. Hal ini sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny Moerdani menjatuhkan karir dan menistakan Prabowo.

Membicarakan "kebejatan" Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa semua kepala staf angkatan darat, laut dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh. Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka sangat patut diduga Wiranto memang sengaja melarang pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan sampai marinir berinisiatif keluar kandang. Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:

1. Menjatuhkan lawan menggunakan "gerakan massa" adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).

2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!!!

3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329).

Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 ada di belakang Jokowi-JK dengan mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar) untuk melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menjadi penghalang utama mereka ketika mencoba mendeislamisasi Indonesia.


Sumber : m.kompasiana.com
              Berric Dondarrion

Dalang Kerusuhan Mei 1998 Mendukung Jokowi

Posted by : Arik noviwibawa
Date :
With 0comments

RESENSI "Mandela-Long Walk to Freedom"

| Kamis, 24 April 2014
Baca selengkapnya »

Produser                      : Anant Singh
Sutradara                     : Justin Chadwick
Penulis Naskah            : William Nicholson
Produser                      : Anant Singh
Sutradara                     : Justin Chadwick
Penulis Naskah            : William Nicholson
Aktor dan Aktris         : Idris Elba, Naomie Harris, Mark Elderkin, Carl Beukes, Tony Kgoroge, Riaad Moosa, Zolani Mkiva, Jamie Bartlett, Lindiwe Matshikiza, Deon Lotz, Terry Pheto, Robert Hobbs Naomie Harris, Mark Elderkin, Carl Beukes, Tony Kgoroge, Riaad Moosa, Zolani Mkiva, Jamie Bartlett, Lindiwe Matshikiza, Deon Lotz, Terry Pheto, Robert Hobbs.


Ada banyak gambar matahari, belang-belang rumput melambaikan tangan dalam angin. Adaptasi film ini diambil dari otobiografi Nelson Mandela. Mandela perjalanan yang panjang menuju kebebasan. Cerita Nelson Mandela dari pedesaan masa kanak-kanaknya hingga sampai pelantikan sebagai presiden pertama “post-apartheid” afrika selatan.
Film ini mengisahkan perjalanan panjang Mandela yang dikenal luas di dunia internasional sebagai tahanan yang selama 27 tahun mendekap dipenjara karena aktif dalam pergerakan pembebasan nasional di Afrika Selatan. Saat penayangannya di Toronto, film ini mendapat sambutan baik dari para penonton atas penampilan Elba yang tepat memerankan sosok kharismatik tokoh pejuang dan mantan presiden pertama Afrika Selatan ini.
Selain menampilkan perjalanan Mandela, Chadpick juga berupaya menggambarkan sisi lain kelemahan Mandela, dimana ia merasa gagal dalam perkawinannya yang pertama serta hubungannya dengan anak-anaknya. Begitupun ketika  ia membina rumah tangga dengan Winnie Mandela, yang mendampingi dalam masa-masa sulit yang dijalaninya.
Pada tahun 1994, setelah kebebasannya, Mandela menjadi presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih secara demokratis. Perjuangannya pun berbuah manis, ketika diskriminasi terhadap ras kulit hitam dihapuskan. Atas perjuangan tersebut, Mandela dianugerahi penghargaan Perdamaian atau Nobel Peace Prize yang pekan lalu baru diterimanya.
Sosok Mandela mengajarkan tentang perjuangan yang tanpa henti untuk menghapuskan diskriminasi sekalipun resiko yang ditanggungnya besar. Ia vokal dan tak pernah takut menyuarakan yang benar, sekalipun harus berhadapan dengan penguasa dan masuk sel tahanan. Hal ini mengingatkan pentingnya rasa kepedulian dan beban dalam mengubahkan tindakan atau pemahaman yang dalam prakteknya tidak benar.

Amanat
Selalu terus maju demi sebuah keadilan yang memang harus diperjuangkan,tak peduli beberapa penderitaan yang harus dilewati tetap bepikir tenang dan bijak. Selalu berusaha maafkan sebuah penderitaan yang diterima . Nelson Mandela adalah sebuah simbol penderitaan yang dialami kaum kulit hitam, dan memaafkan kesalahan dari kaum kulit putih, agar menciptakan sebuah kedamaian dan keadilan bagi negaranya.

Kelebihan
Dipenuhi semangat perjuangan untuk sebuah revolusi keadilan. Memberikan semangat menggebu-gebu dari penonton film ini.
Kekurangannya
Saya rasa tidak ada kekurangan dari pembuatan film ini sudah bagus.

Unsur Ekstrinsik
   1.      Nilai Agama    : Kita tidak boleh menyalahkan tuhan atas apa yang terjadi.
   2.  Nilai moral       : Kita tidak boleh mendiskriminasi dan membeda-bedakan hanya karena perbedaan    suku,budaya,agama dan etnis.
   3.      Nilai Sosial      : Kita harus memperjuangankan keadilan yang memang harus ditegakkan.




RESENSI "Mandela-Long Walk to Freedom"

Posted by : Arik noviwibawa
Date :Kamis, 24 April 2014
With 0comments
Next → ← Prev
▲Top▲